Yadu, mahasiswa STIE SBI Yogyakarta menjadi delegasi Asia Youth International Model United Nations 2018 di Bangkok, Thailand, 3 – 6 November 2018. Kegiatan simulasisidangPerserikatanBangsa-Bangsa (PBB) ini diikuti oleh para delegasi dari 73 negara. Pria yang bernama lengkapYadunandana tersebut menjadi salah satu delegasi untuk Council United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Dalam siding ituYadu memaparkan pemikirannya dalam memberikan solusi terhadap penyediaan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan untuk masyarakat di negara-negara konflik dan pascakonflik.

Kita semua mengetahui bersama bahwa sejak tahun 1990-an telah begitu banyak terjadi peperangan di berbagai negara. Salah satu dampak yang sangat dirasakan adalah hilangnya akses pedidikan dan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat di negara-negara tersebut. Untuk itu, perlu adanya solusi untuk menanggulanginya. Salah satu solusi yang dapat diberikan oleh Yadu ialah bagaimana agar negara-negara sahabatdapat bahu-membahu dalam penyediaan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat khususnya anak-anak yang merupakan generasi penerus perdamaian dunia.

Poin utama yang diusulkan ialah mengenai pendanaan yang merupakan komponen krusial dalam penyediaan akses tersebut. Untuk itu, Yadu mendukung penuh langkah yang diambil oleh UNICEF dan beberapa lembaga serta korporasi lainnya dalam gerakan No Lost Generation, yang merupakan gerakan penggalangan dana untuk penyediaan akses pendidikan bagi anak-anak di area konflik dan pasca konflik.

Melalui kegiatan AYIMUN 2018 tersebut Yadu semakin menyadari betapa diperlukannya peran pemuda untuk mengatasi permasalah-permasalahan dunia, terutama di bidang pendidikan. Untuk itu Yadu mengundang semakin banyak pemuda untukikut aktif dalam mengatasi berbagai macam permasalahan yang ada di dunia, minimal di lingkungan sekitarkita masing-masing.

Abid Azhary Zain adalah anak pertama dari empat bersaudara. Pria kelahiran 08 Desember 1995 ini merupakan cucu dari seorang pendiri Pondok Pesantren di pelosok Lombok Timur. Keadaan itu membuat ia berada dalam lingkungan pondok pesantren yang kental dengan nilai-nilai keagamaan dari sejak lahir. Hingga di suatu masa ketika ia telah menyelesaikan studi Madrasah Aliyahnya, ia mengambil inisiatif untuk merantau ke Yogyakarta.

Awalnya, niatan itu dianggap mustahil oleh orang-orang disekitarnya. Anggapan itu wajar dan sangat beralasan. Otangtua yang berprofesi sebagai buruh tani tidaklah cukup untuk membiayai perjalanannya. Bahkan untuk melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan pun dirasa hanya angan-angan belaka.

Akhirnya dengan uang seadanya yang berhasil ia kumpulkan sendiri, ia meminta restu orangtuanya untuk mengadu nasib di Yogyakarta. Ia memilih Kota Jogja karena banyak cerita yang ia dengar bahwa di Jogja banyak orang yang bisa kuliah sambil bekerja.

Keadaan ekonomi yang sangat terbatas membuatnya harus berjuang keras, tidak enak juga kalau ia harus mengharapkan transferan dana dari orangtua. Mulai dari penjual cilok hingga menjadi operator fotokopi adalah pekerjaannya di tahun pertama di Jogja. Hingga ia mengenal STIE SBI dari seorang teman yang juga kuliah sambil bekerja. Ia pun resmi menjadi mahasiswa STIE SBI pada tahun 2014.

Sebagai anak pertama, ia memiliki tekad untuk menjadi seorang panutan, paling tidak untuk adik-adiknya. Ia pun mengatur waktu kerja dan belajarnya sedemikian rupa. Ia bekerja dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 09.00 malam. Dari pukul 09.00 malam sampai pukul 02.00 dini hari, ia gunakan untuk belajar. Selama dua semester, jadwal bekerja dan belajar itu ia jalani. Ia juga menaruh sebuah kertas besar tepat di langit-langit kamar tidurnya. Ada tulisan besar di sana : “IPK : 3,8”.

Ia telah bertekad untuk menyelesaikan semesternya dengan perolehan IPK minimal 3,8. Dengan segenap kegigihannya, ia terus-terusan menjalani jadwal bekerja dan belajarnya. Hingga di waktu pembagian kertas yang tertera di sana nilai hasil semester, ia berhamburan ke kamar mandi dan membasuh wajahnya agar air mata yang mengalir di pipinya tidak terlalu jelas terlihat. Ia terharu bukan karena sedih, ia terharu karena di kolom IPK, tertulis sebuah angka dengan font yang di-bold : 4.

Nilai IPK yang tinggi mengantarkannya pada sebuah kesempatan untuk mendapatkan beasiswa PPA. Beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) merupakan beasiswa yang diselenggarakan oleh Pemerintah melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemenristekdikti, untuk diberikan kepada mahasiswa yang mempunyai prestasi tinggi. Sejak semester 4, ia telah resmi memperoleh beasiswa, dan tentu saja sangat membantu dalam hal biaya pendidikannya.

Ia menyelesaikan skripsinya tepat setelah 3 tahun 6 bulan menjalankan masa kuliah. Waktu senggang antara ujian pendadaran dan wisuda ia gunakan untuk menjadi asisten dosen komputer dan menulis buku. Hingga pada September 2018, ia berhasil menerbitkan sebuah buku novel bergenre romansa-religi yang berjudul : Menikmati Gerimis Kerinduan.

Buku ini menceritakan sepasang manusia, Abi dan Lia, yang sedang dilanda asmara. Pada awal cerita, para pembaca akan disuguhkan dengan adegan-adegan romansa ala anak-anak muda. Hal ini sengaja diangkat oleh Abid untuk memancing emosional pembacanya. Di tengah cerita, Abid mencoba untuk menghadirkan konspirasi tentang kerinduan dan pengorbanan. Dan di akhir cerita, Abid ingin mengajak para perempuan yang sedang dilanda asmara, agar tidak terlalu larut dalam rayuan laki-laki yang belum halal untuknya. Ada sebuah sikap yang ditunjukkan oleh pemeran wanita bernama Lia untuk Abi, yaitu sebuah teori bahwa jika Abi ingin memiliki Lia, Abi harus menjauhinya.

Buku ini diharapkan tidak hanya menghibur, namun dapat memberika inspirasi kepada pembacanya tentang sikap terhadap sebuah perasaan yang disebut rindu. Memiliki buku ini bukanlah sebuah keharusan, namun bagus untuk dijadikan teman akhir pekan. Abid dapat ditemui di instagram : @azharyzain, atau facebook : Abid Azhary Zain.

KLARIFIKASI RESMI STIE SBI YOGYAKARTA

Menyikapi beredarnya isu tentang Undangan Rakernas yang mengatasnamakan Puket 1 STIE SBI maka dengan ini kami dari Lembaga STIE SBI menyatakan bahwa undangan tersebut hoax dan dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab di luar lembaga kami. STIE SBI selalu berjalan di atas koridor regulasi yang resmi dan transparan dalam melaksanakan kegiatan. Karena itu bagi semua pihak yang mendapat undangan tersebut untuk tidak memenuhinya dan di luar tanggung jawab STIE SBI. Jika memerlukan informasi lebih lanjut silahkan menghubungi kami di nomor 0274 – 887984, wa/sms 081329430001.
Demikian klarifikasi informasi ini kami sampaikan semoga menjadi maklum adanya dan atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Tertanda

Ketua STIE SBI

Unit Kegiatan Mahasiswa Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) STIE SBI Yogyakarta dalam rangka Pendakian Wajib Menengah, mengadakan acara pendakian ke Gunung Andhong, Jawa Tengah.

Acara ini diikuti 18 anggota baru UKM Mapala STIE SBI Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan kelanjutan Diklat Mapala STIE SBI yang berlangsung di Pucak Becici DIY.

Unit Kegiatan Mahasiswa Kewirausahaan STIE SBI Yogyakarta menyelenggarakan Bincang Wirausaha pada tanggal 15 Oktober 2018 bertempat di lantai 4 Kampus STIE SBI Yogyakarta.

Bincang Wirausaha chapter Oktober 2018 menampilkan talenta STIE SBI Yogyakarta,  ABID AZHARY ZAIN.

Abid Azhary Zain, seorang mahasiswa STIE SBI Yogyakarta, writerpreneur, merupakan penulis buku novel “Menikmati Gerimis Kerinduan”. Sebuah karya novel yang layak dibaca dan mengasyikkan. Dengan gaya bahasa lugas dan enak dibaca, penulis mencoba membawa pembaca pada kisah romansa manusia yang dibalut dengan lingkungan religius yang kental.

Acara yang diselingi oleh 2 group band STIE SBI, dihadiri oleh segenap mahasiswa STIE SBI Yogyakarta, yang berlangsung pada jam 13.30 – 15.45

 

Mengenal Abid Azhary Zain

Abid Azhary Zain adalah anak pertama dari empat bersaudara. Pria kelahiran 08 Desember 1995 ini merupakan cucu dari seorang pendiri Pondok Pesantren di pelosok Lombok Timur. Keadaan itu membuat ia berada dalam lingkungan pondok pesantren yang kental dengan nilai-nilai keagamaan dari sejak lahir. Hingga di suatu masa ketika ia telah menyelesaikan studi Madrasah Aliyahnya, ia mengambil inisiatif untuk merantau ke Yogyakarta.

Awalnya, niatan itu dianggap mustahil oleh orang-orang disekitarnya. Anggapan itu wajar dan sangat beralasan. Otangtua yang berprofesi sebagai buruh tani tidaklah cukup untuk membiayai perjalanannya. Bahkan untuk melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan pun dirasa hanya angan-angan belaka.

Akhirnya dengan uang seadanya yang berhasil ia kumpulkan sendiri, ia meminta restu orangtuanya untuk mengadu nasib di Yogyakarta. Ia memilih Kota Jogja karena banyak cerita yang ia dengar bahwa di Jogja banyak orang yang bisa kuliah sambil bekerja.

Keadaan ekonomi yang sangat terbatas membuatnya harus berjuang keras, tidak enak juga kalau ia harus mengharapkan transferan dana dari orangtua. Mulai dari penjual cilok hingga menjadi operator fotokopi adalah pekerjaannya di tahun pertama di Jogja. Hingga ia mengenal STIE SBI dari seorang teman yang juga kuliah sambil bekerja. Ia pun resmi menjadi mahasiswa STIE SBI pada tahun 2014.

Sebagai anak pertama, ia memiliki tekad untuk menjadi seorang panutan, paling tidak untuk adik-adiknya. Ia pun mengatur waktu kerja dan belajarnya sedemikian rupa. Ia bekerja dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 09.00 malam. Dari pukul 09.00 malam sampai pukul 02.00 dini hari, ia gunakan untuk belajar. Selama dua semester, jadwal bekerja dan belajar itu ia jalani. Ia juga menaruh sebuah kertas besar tepat di langit-langit kamar tidurnya. Ada tulisan besar di sana : “IPK : 3,8”.

Ia telah bertekad untuk menyelesaikan semesternya dengan perolehan IPK minimal 3,8. Dengan segenap kegigihannya, ia terus-terusan menjalani jadwal bekerja dan belajarnya. Hingga di waktu pembagian kertas yang tertera di sana nilai hasil semester, ia berhamburan ke kamar mandi dan membasuh wajahnya agar air mata yang mengalir di pipinya tidak terlalu jelas terlihat. Ia terharu bukan karena sedih, ia terharu karena di kolom IPK, tertulis sebuah angka dengan font yang di-bold : 4.

Nilai IPK yang tinggi mengantarkannya pada sebuah kesempatan untuk mendapatkan beasiswa PPA. Beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) merupakan beasiswa yang diselenggarakan oleh Pemerintah melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemenristekdikti, untuk diberikan kepada mahasiswa yang mempunyai prestasi tinggi. Sejak semester 4, ia telah resmi memperoleh beasiswa, dan tentu saja sangat membantu dalam hal biaya pendidikannya.

Ia menyelesaikan skripsinya tepat setelah 3 tahun 6 bulan menjalankan masa kuliah. Waktu senggang antara ujian pendadaran dan wisuda ia gunakan untuk menjadi asisten dosen komputer dan menulis buku. Hingga pada September 2018, ia berhasil menerbitkan sebuah buku novel bergenre romansa-religi yang berjudul : Menikmati Gerimis Kerinduan.

Buku ini menceritakan sepasang manusia, Abi dan Lia, yang sedang dilanda asmara. Pada awal cerita, para pembaca akan disuguhkan dengan adegan-adegan romansa ala anak-anak muda. Hal ini sengaja diangkat oleh Abid untuk memancing emosional pembacanya. Di tengah cerita, Abid mencoba untuk menghadirkan konspirasi tentang kerinduan dan pengorbanan. Dan di akhir cerita, Abid ingin mengajak para perempuan yang sedang dilanda asmara, agar tidak terlalu larut dalam rayuan laki-laki yang belum halal untuknya. Ada sebuah sikap yang ditunjukkan oleh pemeran wanita bernama Lia untuk Abi, yaitu sebuah teori bahwa jika Abi ingin memiliki Lia, Abi harus menjauhinya.

Buku ini diharapkan tidak hanya menghibur, namun dapat memberika inspirasi kepada pembacanya tentang sikap terhadap sebuah perasaan yang disebut rindu. Memiliki buku ini bukanlah sebuah keharusan, namun bagus untuk dijadikan teman akhir pekan. Abid dapat ditemui di instagram : @azharyzain, atau facebook : Abid Azhary Zain.

 

 

stie-sbi